Ahlan Wa Sahlan.......

this website is a personal website.my life learning.
enjoy the site, hope u'll get something positive inside :)
amin....
Aq hanyalah seorang hamba yang banyak memiliki kekurangan, tp hamba ingin berusaha menjadi The Great Person,,
Dan ini adalah salah satu usaha hamba,,
Ridholah hamba Ya Allah.........

Telah tiba Hari Kemenangan Umat muslim

Persatuan Umat Harus Dijaga

Akhirnya yang diharapkan oleh umat muslim terkabulkan, yaitu adanya kesatuan dan kebersamaan dalam menetapkan 1 Syawal 1429 H. paling tidak itu tercermin dari mayoritas umat muslim di Indonensia, yang sudah terwadahi dalam ormas-ormas...


Idul Fitri Mubarak


Bertepatan dengan hari raya idul fitri 1429 H. yang penuh berkah ini, kami keluarga besar Musa berdo’a kepada Allah SWT. agar di bulan baru ini Allah SWT. mengkaruniai kita kedewasaan iman dan rasa aman, menguatkan islam dan keselamatan, serta memberikan taufiq kepada kita agar kita mencintai ketaatan sehingga langkah kehidupan kita diridhoi. Dan agar hari raya ini menjadi kabar gembira, kebaikan dan keberkahan terhadap setiap umat muslim di belahan manapun mereka berada. Sekaligus menjadikannya sebagai peringatan, kerugian dan penyesalan bagi setiap yang memusuhi umat ini.

Selamat Idul Fitri 1429 H. “Taqabbalallah minnaa waminkum shaalihal a’maal, semoga Allah swt. menerima amal ibadah kita dan semoga kita senantiasa dalam kebaikan selama setahun ke depan.”
juga mengucapkan mohon ma’af lahir dan batin, atas segala khilaf, kekurangan selama berkhidmat dalam dunia maya ini.Jazakumullah khaira.

Lebaran ibarat stasiun pemberhentian dalam perjalanan kehidupan, atau laksana tempat singgah di padang sahara kehidupan. Demikian lah umat-umat memiliki momentum yang berbeda-beda di mana mereka di dalamnya bergembira, dan merayakan kebahagiaan. Islam datang menguatkan hal demikian. Oleh karena itu Idul fitri dan Idul Adha adalah hari raya besar Islam. Allah SWT. mengikat hari-hari besar Islam dengan kewajiban-kewajiban besar dan ibadah-ibadah besar.

Allah SWT. mengikat idul fitri dengan kewajiban shaum, maka hari raya idul fitri adalah lebaran dari sebelumnya tidak makan, minum dan hubungan suami-istri di siang hari menjadi halal lagi bagi mereka di siang hari maupun malam hari. “Bagi muslim dua kegembiraan: Gembira ketika berbuka dan gembira ketika berjumpa dengan Tuhannya.”

Berbahagia karena berbuka ada dua makna; yaitu setiap hari, berbuka saat maghrib tiba, bahagia manusiawi karena di siang hari diharamkan yang sejatinya halal, namun menjadi halal lagi pada malamnya, sehingga do’a yang dilantunkan adalah “Telah hilang rasa dahaga, telah kering kerongkongan, dan semoga Allah menetapkan pahala, insya Allah.”

Kebahagiaan kedua adalah bahagia karena mendapat taufiq dari Allah swt. dan dimudahkan dalam ketaatan dan menunaikan kewajiban di bulan ini, ini juga arti firman Allah swt.: “Katakanlah, karena keutamaan Allah dan rahmat-Nya, karena itu hendaknya mereka berbahagia, yang demikian itu lebih baik dari pada apa yang mereka kumpulkan.”

Karena itu, kita lihat di hari raya orang-orang yang melaksanakan shaum Ramadhan wajah-wajah mereka berseri-seri dan tertawa bahagia.

Hari raya umat muslim diikat dengan dua nilai besar; Nilai Rabbani dan Nilai Insani.

Nilai Rabbani adalah agar setiap manusia tidak lupa pada Tuhannya saat hari raya. Hari raya bukanlah bebas sebebas-bebasnya di bawah kendali syahwat. Justru hari raya di awali dengan mengumandangkan takbir, shalat ied dan taqarrub ilallah swt. Hari raya bukan lepas dari ibadah dan ketaatan, dengan mengerjakan sesuka hati.

Nilai insani bagi hari raya adalah terlihat dari kebahagiaan, kegembiraan, bersenang-senang, dan pakaian baru, juga karena muslim menyambung tali silaturrahim dengan yang lain. Karena itu Islam mensyariatkan dalam idul fitri ini perintah menunaikan zakat fitrah. Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah atas orang dewasa dan anak-anak, merdeka dan budak, laki-laki dan perempuan. Rasulullah saw. menjadikan zakat fitrah sebagai pencuci bagi orang yang shaum dari sendau-gurau, perkataan jorok, sekaligus nilai insaninya adalah sebagai pemenuhan kebutuhan bagi bagi orang-orang yang tidak berpunya. Jangan sampai orang yang tidak berpunya jadi minder karena tidak bisa memakai pakaian baru atau melihat orang lain memakan makanan serba enak, sedangkan dirinya tidak menemukan makanann. Sehingga dengan zakat itu, mereka juga merayakan kebahagiaan.

Zakat fitrah dikeluarkan di masa Rasulullah SAW. setelah shalat fajar, sebelum pelaksanaan shalat idul fitri, karena jumlah muslim pada waktu itu masih sedikit.

Untuk masa sekarang ini, karena umat muslim sudah demikian banyak, maka zakat fitrah bisa dikeluarkan di hari kedua atau ketiga sebelum hari raya, ada yang berpendapat di pertengahan Ramadhan bahkan sebagian membolehkan mengeluarkan zakat di awal Ramadhan, yang pasti tidak boleh melewati shalat idul fitri, karena nilainya hanya menjadi sedekah biasa, bukan zakat fitrah yang wajib. Allahu ‘alam,,



Silaturahim: Biarkan Hadiah Bicara


“Sambunglah orang yang memutus silaturahim denganmu. Berilah hadiah kepada orang yang enggan memberimu. Dan jangan hiraukan orang yang menzalimi kamu.” (HR. Ahmad)

Jangan biarkan kebencian berkelanjutan

Selalu saja ada sisi positif dan negatif sebuah interaksi. Positif ketika interaksi memunculkan rasa cinta dan sayang, kuatnya persaudaraan, tolong menolong sesama mukmin. Dan negatif, saat interaksi meletupkan bunga-bunga api kekecewaan. Kebencian pun tak terelakkan.

Kebencian karena persoalan teknis semisal salah paham, emosi dadakan, mestinya hanya bertahan beberapa hari. Karena prinsipnya setiap mukmin punya satu ikatan: akidah Islam. Sehingga persoalan teknis di lapangan bisa cair sendiri bersama waktu dan kesibukan. Setelah itu, muncul lagi kerinduan.

Namun, begitulah setan. Emosi yang labil menjadi alat efektif pintu setan untuk mengobrak-abrik persaudaraan. Sesama mukmin menjadi marahan. Bahkan, pada dosis tertentu, marahan bisa diwariskan ke anak cucu. Na’udzubillah. Rasulullah saw. bersabda, “Cinta bisa berkelanjutan (diwariskan) dan benci pun demikian.” (HR. Al-Bukhari)

Putus persaudaran bukan hanya dilakoni para pelaku. Tapi, bisa diwariskan dari generasi ke generasi. Suatu hal yang mestinya tidak mungkin terjadi dalam diri seorang mukmin.

Siram api dengan air, bukan dengan api

Jika marah diibaratkan sebagai api, maka airlah yang paling cocok agar api segera padam. Tidak mungkin api akan padam dengan api. Dan air adalah perumpamaan yang pas buat silaturahim.

Sekeras apa pun sebuah kebencian, boleh jadi rapuh dengan beberapa celah kasih sayang dan sentuhan persaudaraan. Orang yang diumbar marah dan benci sebenarnya sangat membutuhkan perhatian. Tidak jarang, kebencian bisa luluh hanya dengan perhatian dan sapaan yang tulus.

Banyak kisah menarik di masa Rasulullah saw. tentang hal itu. Abu Sufyan mungkin orang yang paling sadis permusuhannya dengan Rasul. Siang malam, dia mengatur siasat bagaimana menghancurkan Rasulullah dan umat Islam. Tapi, justru Abu Sufyanlah yang paling mendapat kehormatan dari Rasul ketika Mekah diambang penaklukan. “Siapa yang masuk ke masjidil haram mendapat keamanan. Dan siapa yang berkumpul di rumah Abu Sufyan, juga mendapat keamanan.” Begitulah kira-kira pengumuman Rasul kala itu.

Bayangkan, seperti apa hati Abu Sufyan mendengar itu. Bingung, takjub, dan akhirnya luluh seratus persen. Dia pun berbalik menjadi orang yang siap membela perjuangan Rasulullah saw. di Mekah dan sekitarnya. Sungguh sebuah cara meluluhkan kebencian yang paling efektif tanpa menimbulkan kebencian baru.

Hadiah sebagai pelunak kekakuan

Ketika kles terjadi, yang mendominasi diri setelah itu adalah ego. Diri merasa paling benar, paling mampu, dan sebagainya. Kekakuan pun muncul begitu saja. Seolah, dalam dirinya cuma ada ego; tidak ada nalar, empati, apalagi kasih sayang sesama saudara seiman.

Jika tidak ada inisiatif mencari jalan damai, kekakuan terus berlanjut. Bahkan, bisa terwariskan ke anak cucu.

Sebenarnya, ada ruang-ruang dalam diri yang sejalan dengan waktu membutuhkan perhatian, kasih sayang, kerinduan. Terlebih sesama mukmin. Baik buruk sebuah hubungan persaudaraan bisa berbanding lurus dengan tingkat keimanan. Semakin kuat cahaya iman bersinar, rasa kasih sayang mulai mengganti ego dan benci. Lahirnya keharmonisan cuma tinggal menunggu momentum. Dan hadiah merupakan alat efektif menumbuhkan momentum itu.

Rasulullah saw. bersabda, “Hendaknya kamu saling memberi hadiah. Sesungguhnya pemberian hadiah itu dapat melenyapkan kedengkian.” (HR. Attirmidzi dan Ahmad)

Selalu pada komunikasi

Bisa dibilang, sebagian besar sebab munculnya kebencian karena salah menafsirkan sebuah ucapan. Atau, sebab molornya perseteruan karena tertutupnya peluang berkomunikasi.

Yang pertama memperlihatkan ketidakmampuan seseorang mengungkapkan maksud baik. Plus, tidaksanggupan pihak lain menahan diri membuat kesimpulan negatif. Ketidakmampuan mengutarakan maksud dan sifat reaktif di pihak lain menjadi perkara paling rawan munculnya kles.

Dengan begitu, saling membuka komunikasi adalah langkah paling tepat memperbaiki ketidakharmonisan. Dan itu akan berjalan efektif jika dua belah pihak siap saling mendengarkan. Sulit memunculkan keadaan saling pengertian seperti itu jika tidak dikondisikan dengan situasi yang penuh persaudaraan dan kekeluargaan. Dan silaturahim adalah cara yang paling pas.

Kasus Hathib bin Abi Balta’ah di masa Rasul bisa menjadi pelajaran. Para sahabat termasuk Rasulullah saw. kaget ketika tahu siapa pembocor rahasia penyerangan ke Mekah. Orang itu bernama Hathib. Kontan saja, Umar bin Khattab minta izin ke Rasul agar bisa menghukum Hathib. Tapi Rasul menolak. Beliau saw. meminta sahabat memanggil Hathib.

Penjelasan pun disampaikan Hathib. Sahabat yang masih punya keluarga di Mekah ini pun mengungkapkan keterpaksaannya demi keselamatan keluarga di sana. Itu saja. Tidak ada maksud membocorkan rahasia ke tangan musuh. Akhirnya, Rasul memaafkan Hathib.

Harus ada prakarsa agar kebencian tidak berlanjut. Dan yang terbaik adalah mereka yang lebih dulu mengawali kunjungan. Indahnya sebuah nasihat Rasullah saw., “Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi (memutuskan hubungan) dengan saudaranya melebihi tiga malam. Hendaklah mereka bertemu untuk berdialog, mengemukakan isi hati. Dan yang terbaik, yang pertama memberi salam (menyapa).” (HR. Al-Bukhari)


Silaturahim: Menyiram Pohon Persaudaraan


Persaudaraan kadang seperti tingkah dahan-dahan yang ditiup angin. Walau satu pohon, tak selamanya gerak dahan seiring sejalan. Adakalanya seirama, tapi tak jarang berbenturan. Tergantung mana yang lebih kuat: keserasian batang dahan atau tiupan angin yang tak beraturan.

Indahnya persaudaraan. Sebuah anugerah Allah yang teramat mahal buat mereka yang terikat dalam keimanan. Segala kebaikan pun terlahir bersama persaudaraan. Ada tolong-menolong, terbentuknya jaringan usaha, bahkan kekuatan politik umat.

Namun, pernik-pernik lapangan kehidupan nyata kadang tak seindah idealita. Ada saja khilaf, salah paham, friksi, yang membuat jalan persaudaraan tidak semulus jalan tol. Ketidakharmonisan pun terjadi. Kebencian terhadap sesama saudara pun tak terhindarkan.

Muncullah kekakuan-kekakuan hubungan. Interaksi persaudaraan menjadi hambar. Sapaan cuma basa-basi. Tidak ada lagi kerinduan. Sebaliknya, ada kekecewaan dan kebencian. Suatu hal yang sulit ditemukan dalam tataran idealita persaudaraan Islam.

Lebih repot lagi ketika disharmoni itu menular ke orang lain. Keretakan persaudaraan bukan lagi hubungan antar dua pihak, bahkan merembet. Penyebarannya bisa horisontal atau ke samping, bisa juga vertikal atau atas bawah. Para orang tua yang berseteru, anak cucu pun bisa ikut kebagian.

Rasulullah saw. pernah mengingatkan itu dalam sabdanya, “Cinta bisa berkelanjutan (diwariskan) dan benci pun demikian.” (HR. Al-Bukhari)

Waktu memang bisa menjadi alat efektif peluntur kekakuan itu. Saat gesekan menghangat, perjalanan waktulah yang berfungsi sebagai pendingin. Orang menjadi lupa dengan masalah yang pernah terjadi. Ada kesadaran baru. Dan kerinduan pun menindaklanjuti.

Kalau berhenti sampai di situ, bisa jadi, perdamaian cuma datang dari satu pihak. Karena belum tentu, waktu bisa menjadi solusi buat pihak lain. Kalau pun bisa, sulit memastikan bertemunya dua kesadaran dalam rentang waktu yang tidak begitu jauh.

Perlu ada cara lain agar kesadaran dan perdamaian bertemu dalam waktu yang sama. Dan silaturahim adalah salah satunya. Inilah cara yang paling ampuh agar kekakuan, ketidaksepahaman, kekecewaan menjadi cair. Suasana yang panas pun bisa berangsur dingin.

Dengan nasihat yang begitu sederhana, Rasulullah saw. mengajarkan para sahabat tentang keunggulan silaturahim. Beliau saw. bersabda, “Siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah menyambung tali silaturahim.” (Muttafaq ‘alaih)

Menarik memang tawaran Rasul tentang manfaat silaturahim: luasnya rezeki dan umur yang panjang. Dua hal tersebut merupakan simbol kenikmatan hidup yang begitu besar. Bumi menjadi begitu luas, damai, dan nyaman. Sehingga, kehidupan pun menjadi sangat berarti.

Masalahnya, tidak mudah menggerakkan hati untuk berkunjung ke orang yang pernah dibenci. Mungkin masih terngiang seperti apa sakitnya hati. Begitu berat beban batin. Berat. Terlebih ketika setan terus mengipas-ngipas bara luka lama. Saat itulah, setan memposisikan diri seseorang sebagai pihak yang patut dikunjungi. Bukan yang mengunjungi. Kalau saja bukan karena rahmat Allah, seorang mukmin bisa lupa kalau ‘izzah bukan untuk sesama mukmin. Tapi, buat orang kafir.

Firman Allah swt. “Hai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya, yang bersikap adzillah (lemah lembut) terhadap orang mukmin, yang bersikap ‘izzah (keras) terhadap orang-orang kafir….” (QS. 5: 54)

Setidaknya, ada tiga persiapan yang mesti diambil agar silaturahim tidak terasa berat. Pertama, murnikan keinginan bersilaturahim hanya karena Allah. Ikatan hati yang terjalin antara dua mukmin adalah karena anugerah Allah. Ikatan inilah yang menembus beberapa hati yang berbeda warna menjadi satu cita dan rasa. Sebuah ikatan yang sangat mahal.

Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka….” (QS. Al-Anfal: 63)

Jangan pernah selipkan maksud-maksud lain dalam silaturahim. Karena di situlah celah setan memunculkan kekecewaan. Ketika maksud itu tak tercapai, silaturahim cuma sekadar basa-basi. Silaturahim tinggallah silaturahim, tapi hawa permusuhan tetap ada.

Kedua, cintai saudara seiman sebagaimana mencintai diri sendiri. Inilah salah satu cara mengikis ego diri yang efektif. Ketika tekad ini terwujud, yang terpikir adalah bagaimana agar bisa memberi. Bukan meminta. Apalagi menuntut.

Akan muncul dalam nurani yang paling dalam bagaimana bisa memberi sesuatu kepada saudara seiman. Termasuk, memberi maaf. Meminta maaf memang sulit. Dan, akan lebih sulit lagi memberi maaf.

Hal inilah yang paling sulit dalam tingkat keimanan seseorang. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak beriman seseorang di antara kamu, sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.”

Ketiga, bayangkan kebaikan-kebaikan saudara yang akan dikunjungi, bukan sebaliknya. Kerap kebencian bisa menihilkan kebaikan orang lain. Timbangan diri menjadi tidak adil. Kebaikan yang bertahun-tahun bisa terhapus dengan kesalahan semenit.

Maha Benar Allah dalam firmanNya, “…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa….” (QS. 5: 8 )

Tak ada yang pernah dirugikan dari silaturahim. Kecuali, tiupan angin ego yang selalu ingin dimanjakan. Karena, ulahnya tak lagi membuat tangkai-tangkai dahan berbenturan.
Read More…

Must to read...!

Good to great


penulis : jim collins
tahun terbit : 2001
negara penerbit buku : indonesia (edisi terjemahan)
kategori buku : international best seller

berikut sedikit resume tentang buku tersebut :

Hebat adalah lebih dari sekedar menjadi baik.

Menjadi baik (saja) adalah musuh dari menjadi hebat. Itulah salah satu alasan utama mengapa kita hanya mempunyai demikian sedikit yang menjadi hebat, karena demikian mudah untuk merasa puas dengan hidup yang baik, sehingga tidak meningkatkannya menjadi hebat.

Dalam upaya mencari tahu/mengenali bagaimana karakteristik suatu perusahaan yang hebat, Jim Collins mengadakan penelitian terhadap berbagai macam perusahaan yang ada di Amerika.

Yang menjadi ukuran bahwa suatu perusahaan dapat disebut dengan perusahaan yang hebat adalah :

1. Harga saham kumulatif perusahaan hebat tersebut minimal 3 kali diatas harga pasar.

2. Perusahaan sebagaimana tersebut diatas harus dapat bertahan minimal 15 tahun di kondisi tersebut.

3. Pola perusahaan tersebut tidak tergantung pada jenis industri, namun berlaku universal.

Dalam melakukan penelitiannya,Jim Collins menggunakan beberapa cara sebagai berikut :

- Mengumpulkan berbagai informasi & data mengenai perusahaan-perusahaan yang ada di Amerika, termasuk di dalamnya informasi mengenai harga saham tersebut di pasar dan operasional perusahaan tersebut sehari-hari.

- Mengklasifikasikan perusahaan-perusahaan tersebut ke dalam golongan :

o Kelompok perusahaan dengan industri sejenis.

o Kelompok perusahaan yang memiliki harga saham kumulatif minimal 3 kali diatas harga pasar, dan dapat bertahan minimal 15 tahun, yang kemudian disebut kelompok perusahaan baik-menjadi-hebat.

o Kelompol perusahaan pembanding, yaitu perusahaan yang pernah memiliki harga saham kumulatif minimal 3 kali diatas harga pasar, namun gagal mempertahankannya.

- Membandingkan perusahaan baik-menjadi-hebat dengan perusahaan pesaing langsung (perusahaan industri sejenis) dengan perusahaan yang gagal melakukan lompatan dari hasil baik menjadi hebat (atau bila berhasil mencapai hebat, namun gagal mempertahankannya), dan juga dengan perusahaan yang biasa saja, à untuk menemukan faktor penting yang membedakan perusahaan baik-menjadi-hebat dengan perusahaan lainnya.


Dari hasil membandingkan tersebut didapatkanlah informasi sebagai berikut :

- Didapatkan hasil 11 perusahaan masuk dalam kategori perusahaan baik-menjadi-hebat.

- Perusahaan baik-menjadi-hebat, jika diinvestasikan uang senilai $1 pada tahun x (tahun transisi), maka 15 tahun kemudian setelah masa transisi perusahaan tersebut, rata-rata nilai kumulatif harga saham hasil investasi tersebut (dengan asumsi : deviden hasil saham tersebut diinvestasikan kembali, sesuai dengan semua pemisahan saham) pada tahun ke-15 adalah 6,9 x harga pasar (atau nilai uang awal $1 tersebut menjadi 471x, sedangkan dalam pasar nilainya 56x).

- 10 dari 11 Dirut perusahaan baik-menjadi-hebat berasal dari dalam perusahaan tersebut, dan hanya 1 perusahaan yang Dirutnya berasal dari luar perusahaan tersebut, dimana perusahaan pembanding melakukan pergantian Dirut dari luar perusahaan mereka 6x lebih sering.

- Ditemukan tidak ada pola sistematis yang menghubungkan bentuk spesifik dari kompensasi eksekutif terhadap proses beranjaknya perusahaan dari status baik menjadi status hebat.

- Pendapat yang mengutarakan bahwa struktur kompensasi eksekutif merupakan penggerak utama dalam kinerja perusahaan tidak didukung oleh data yang ada.

- Strategi saja tidak memisahkan perusahaan baik-menjadi-hebat dari perusahaan pembanding. Kedua kelompok perusahaan mempunyai strategi yang ditetapkan dengan baik, dan tidak ada bukti bahwa perusahaan baik-menjadi-hebat meluangkan waktu lebih banyak untuk membuat rencana strategi jangka panjang ketimbang perusahaan pembanding.

- Perusahaan baik-menjadi-hebat secara prinsip tidak memfokuskan pada apa yang harus dilakukan untuk menjadi hebat, mereka juga memfokuskan dengan perhatian yang sama besar pada apa yang tidak boleh dilakukan dan tindakan apa yang harus dihentikan.

- Teknologi dan perubahan yang digerakkan oleh teknologi praktis tidak mempunyai kaitan dengan memulai transformasi dari baik menjadi hebat. Teknologi dapat mempercepat transformasi, namun teknologi tidak dapat menyebabkan terjadinya transformasi.

- Merger dan akuisisi praktis tidak mempunyai peran dalam memulai transformasi dari baik menjadi hebat. 2 perusahaan besar dengan prestasi sedang yang bergabung menjadi 1 tidak pernah menjadi satu perusahaan yang hebat.

- Perusahaan baik-menjadi-hebat kurang memberi perhatian untuk mengelola perubahan, memotivasi orang, atau menciptakan penyesuaian. Dengan kondisi yang tepat, sebagian besar masalah komitmen, penyesuaian, motivasi dan perubahan akan hilang dengan sendirinya.

- Perusahaan baik-menjadi-hebat tidak mempunyai nama, batas tanggal tertentu, peresmian peristiwa, atau program untuk menandai transformasi mereka. Sekalipun demikian, beberapa melaporkan tidak menyadari mengenai besarnya transformasi pada waktu itu. Barulah kemudian, ketika melakukan introspeksi, hal ini menjadi jelas. Benar, mereka benar-benar membuahkan lompatan revolusioner dalam hasil, tetapi tidak dengan proses revolusioner.

- Perusahaan baik-menjadi-hebat, secara umum, tidak berkecimpung dalam industri yang hebat, dan beberapa berada dalam industri yang buruk sekali. Kami belum pernah bertemu dengan kasus perusahaan yang sudah berada dalam posisi mantap ketika tinggal landas. Kehebatan bukan fungsi keadaan. Kehebatan, ternyata, pada dasarnya adalah masalah pilihan yang dibuat secara sadar.


Dari penelitian diatas, didapati ikhtisar kerangka kerja sebagai berikut :

- Kepemimpinan tingkat 5.

Dibandingkan dengan pemimpin yang terkenal yang menjadi berita utama media massa dan menjadi selebriti, pemimpin perusahaan baik-menjadi-hebat tampak biasa-biasa saja. Tidak menonjolkan diri, tenang, pendiam, bahkan pemalu. Para pemimpin ini merupakan campuran paradoks dari kerendahan hati pribadi dan keinginan profesional. Mereka lebih mirip dengan Lincoln dan Socrates ketimbang Patton atau Caesar.

- Pertama siapa… kemudian apa.

Sebaliknya, kami menemukan bahwa pertama mereka merekrut orang yang tepat untuk bergabung, melepaskan orang yang tidak tepat, dan menunjuk orang yang tepat di jabatan yang tepat, dan kemudian mereka menjelaskan ke mana arah perusahaan. Pepatah lama mengatakan “Manusia adalah aset Anda yang paling penting”, ternyata keliru. Manusia bukan aset paling penting, melainkan hanya manusia yang tepat saja yang menjadi aset Anda.

- Hadapi fakta brutal (tetapi tidak pernah kehilangan kepercayaan).

Anda harus mempertahankan kepercayaan teguh yang dapat dan akan Anda menangkan akhirnya, tidak peduli kesulitannya. Dan sekaligus mempunyai disiplin untuk menghadapi fakta yang paling brutal mengenai kenyataan saat ini, apa pun kenyataan itu.

- Konsep landak (kesederhanaan dalam 3 lingkaran).

Untuk beranjak dari baik menjadi hebat memerlukan lebih dari sekedar kompetensi. Hanya karena sesuatu adalah bisnis inti Anda. Hanya karena Anda telah lama melakukannya selama bertahun-tahun mungkin beberapa dekade, tidak harus selalu berarti Anda dapat menjadi yang paling baik dalam hal itu, maka bisnis inti Anda secara absolut tidak dapat membentuk dasar dari perusahaan yang hebat. Bisnis inti ini harus digantikan dengan konsep sederhana yang mencerminkan pemahaman mendalam dari 3 lingkaran yang saling berpotongan.

- Budaya disiplin.

Kalau Anda menggabungkan budaya disiplin dengan etika kewiraniagaan, Anda mendapatkan ramuan ajaib dari kinerja yang hebat.

- Teknologi pemercepat.

Perusahaan baik-menjadi-hebat berpikir dengan cara yang berbeda dengan teknologi. Mereka tidak pernah menggunakan teknologi sebagai cara utama untuk memulai transformasi. Sekalipun demikian, secara paradoks, mereka adalah pelopor dalam aplikasi teknologi yang dipilih secara seksama. Kami belajar bahwa teknologi sendiri tidak pernah menjadi penyebab primer dari kehebatan atau penurunan.


- Roda pengatur dan putaran kematian.

Tidak ada 1 tindakan tunggal yang menentukan, tidak ada program besar, tidak ada 1 inovasi pembunuh, tidak ada keberuntungan yang berdiri sendiri, tidak ada saat ajaib. Sebaliknya, proses itu menyerupai mendorong roda pengatur yang berat tanpa mengenal lelah ke 1 arah, putaran demi putaran, membangun momentum sampai saat yang tepay untuk melakukan terobosan, dan lebih dari itu.

- Dari baik menjadi sehat untuk membangun jangka panjang (build to last).

Konsep baik menjadi hebat hasil hebat yang bertahan + konsep build to last à perusahaan hebat yang bertahan lama.
Read More…